Minggu, 15 September 2013

Penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer
Penyakit Alzheimer adalah penyakit degeneratif dan progresif, penyebab demensia paling sering. Penderita penyakit Alzheimer pada umumnya ditemukan pada usia lanjut namun bisa juga ditemukan pada umur yang muda (Small et al., 1997). Tanda-tanda klinis yang utama adalah kehiangan memori, penurunan fungsi kognitif yang pada akhirnya menyebabkan kehilangan kemampuan untuk mengurus diri sendiri. Keadaan ini akan berdampak pada ketergantungan hidup sehari-hari baik dari keluarga ataupun pendamping.
Pertama kalinya ditemukan pada tahun 1906 oleh Alois Alzheimer seorang neuroog dan psikiater Jerman. Alzheimer ditemukan pada seorang penderita berumur 51 tahun yang meninggal 4 tahun kemudian sesudah menderita demensia. Gejala klinis dari penderita tersebut selain demensia juga ditemukan gangguan perilaku termasuk stress, depresi serta paranoid.
Mengenal Penyakit Alzheimer
Alzheimer atau kepikunan merupakan sejenis penyakit penurunan fungsi saraf otak yang kompleks dan progresif yang disebabkan karena berkurangnya gizidi otak. Penyakit Alzheimer bukannya sejenis penyakit menular. Penyakit Alzheimer adalah keadaan dimana ingatan seseorang merosot dengan parahnya sehingga pengidapnya tidak mampu mengurus diri sendiri. Penyakit Alzheimer bukannya karena sekedar usia tua atau hanya suatu proses penuaan biasa. Sebaliknya, ia adalah sejenis masalah kesehatan yang menimpa dimasa tua dan perlu diberikan perhatian sejak kamu masih muda.

Alzheimer digolongkan kedalam salah satu dari jenis (dementia) yang dicirikan dengan melemahnya kemampuan bahasa, kewarasan, ingatan, pertimbangan, perubahan kepribadian dan tingkah laku yang tidak terkendali. Keadaan ini sangat membebani bukan saja kepada pengidapnya namun juga kepada anggota keluarga yang menjaga. Penyakit Alzheimer yang menurunkan fungsi memorijuga menghilangkan fungsi intelektualdan sosial dalam hidup penderita. Biasaanya baru diketahui setelahanggota keluarga datang membawa orang yang sakit berjumpa dokter  apabila penderita sudah mencapai tahap yang cukupparah sehingga familinya sudah tidak dapat mengatasi masalah-masalah orang yang sakit.

Hingga kini sumber penyakit yang sebenarnya tidak diketahui. Tetapi bisa  dipastikan bahwa bukanlah disebabkan penuaan normal. Hal ini diketahui dari banyak orang dalam usia tua tidak mengalami gangguan ini. Bagaimanapun ilmuan berpendapat, ia dikaitkan dengan pembentukan dan perubahan pada sel-sel saraf yang normal menjadi abnormal. Resiko untuk mengindap penyakit yang sinonim dengan orang tua ini terus meningkat seiring dengan pertambahan usia. Bermula pada usia 65 tahun, seseorang mempunyai resiko 5%mengidap penyakit ini, dan resiko ini meningkat dua kali lipat setiap lima tahun. Walaupun penyakit ini dikaitkan dengan orang tua, namun sejarah membuktikan bahwa ada orang pertama yang didiagnosis secara pasti menderita penyakit ini, ia adalah wanita dalam usia awal lima puluh tahunan.
   Penyakit Alzheimer adalah penyakit progresif perlahan-lahan menurunkan kemampuan otakyang ditunjukkan oleh gangguan memori dan akhirnya gangguan dalam penalaran, perencanaan, bahasa, dan  persepsi. Banyak ilmuwan percaya bahwa penyakit Alzheimer hasil dari peningkatan produksi atau penumpukan zat protein tertentu (beta-amiloid protein) dalam otak yang menybabkan kematian sel saraf.

   Kemungkinan seseorang terkena penyakit Alzheimer meningkat secara substansial setelah usia tujuh puluh tahun dan dapat mempengaruhisekitar separuh dari orang-orang diatas usia 85 tahun. Meskipun demikian, penyakit Alzheimer bukan merupakan bagian normal dari penuaan dan bukanlah sesuatu yang pasti terjadi di kemudian hari. Sebagai contoh, banyak orang hidup untuk lebih seratus tahun dan tidak pernah terkena penyakit Alzheimer.

Penyebab Penyakit Alzheimer
Penyebab dan perkembangan penyakit Alzheimer tidak  diketahui secara pasti. Penelitian menunjukkan bahwa penyakit itu berhubungan dengan plak  atau kusut di otak. Saat ini digunakan pengobatan simptomatik menawarkan keuntunganyang kecil, tidak ada perawatan untuk menunda atau menghentikan perkembangan penyakit yang belum tersedia. Pernah dilakukan uji kliinis menyelidiki kemungkinan pengobatan terhadapnya,tetapi tidak terbukti toingkat kesuksesannya.

Banyak langkah-langkah yang diusulkan untuk pencegahan penyakit Alzheimer, tetapi ada kekurangan dukungan yang menunjukkan bahwa proses degeneratif dapat diperlammbat. Mental stimulasi, latihan, dan diet sewimbang yang disarankan, baik secaqra pencegahan dan mungkin cara yang bijaksana mengelola penyakit.Karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan  dan bersifat degeneratif, manajemen penderita sangat penting. Peran utama pengasuh sering diambil oleh pasangan dan kerabat  dekat penyakit Alzheimer dikenal untuk menempatkan beban yang besar pengasuh; tekanan dapat luas,melibatkan sosial, psikologis, fisik dan unsur-unsur ekonomi dari kehiduipan pengasuh. Dinegara-negara maju Alzheimer merupakan salah satu peyakit yang paling mahal secara ekonpomis bagi masyakrakat.
Penyebab pasti penyaklit ini belum dapat diketahui. Namun menurut penelitian yang terkenal menghasilkan hipotesis “kaskade amiloid”. Data yang paling kuat mendukung hipotesis kaskade amiloid berasal dari studi pewarisan (genetik) penyakit Alzheimer. Mutasi yang terkait dengan penyakitr Alzheimer telah ditemukan sekitar separuh dari penderita penyakit onset dini. Dalam semua penderita, mutasi menyebabkan kelebihan produksi di dalam otak bentuk spesifik protein kecil yang disebut fragmen A beta (Aâ). Banyak ilmuwan percaya bahwa disebagian besar dari semua penyakit Alzheimer yang terjadi. Banyak penelitian menemukan cara untuk mencegahdan memperlambat penyakit Alzheimer  telah berfokus pada  cara-cara untuk mengurangi jumlah protein Aâ di otak.

Faktor-faktor resiko penyakit Alzheimer terdiri dari faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan dan yang dapat dikendalikan.

1.            USIA
Faktor risiko utama untuk penyakit Alzheimer adalah meningkatnya usia.  Frekuensi penyaklit Alzheimer terus meningkat 10% orang diatas 65 tahun dan 50% dari mereka lebih Dari  85 tahun memiliki penyakit Alzheimer. Kecuali pengobatan baru dikembangkan untuk mengurangi kemungkinan meningkatnya penyakit Alzheimer.

Kemungkinan terjangkitnya penyakit Alzheimer dua kali lipat setiap 5,5 bertambahnya umur orang-orang yang berusia antara 65-85 tahun. Sedangkan jumlah penderita hanya sekitar 1%-2% dari orang berusia 70 tahun. Dalam beberapa studi sekitar 40% dari orang usia 85 tahun mempunyai penyakit Alzheimer. Meskipun demikian, setidaknya setengah dari orang-orang yang hidup melewati usia 95 tahun tidak memiliki penyaki ALZHEIMER.

2.            GENETIK
Kebanyakan penderita menderita penyakit Alzheimer setelah umur 70 tahun. Namun, 2% -5% dari penderita menderita penyakit pada dekade keempat atau kelima kehidupan sekitar umur 40 tahun keatas. Setidaknya setengah dari penderita muda ini karena telah mewarisi mutasi gen yang terkait dengan penyakit Alzheimer . Selain itu, anak-anak dari penderita itu  yang memiliki salah satu mutasi gen ini mempunyai 50% resiko berkembangnya penyakit Alzheimer. Ada juga resiko genetik untuk kasus serangan akhir.  Pewarisan sifat pada gen terletak pada kromosom 19 ini dikaitkan dengan onset terlambat penyakit Alzheimer. Pada sebagian besar kasus penyakit Alzheimer tanpa faktor gen.

Umumnya bentuk gen tertentu meningkatkan rsiko tejadinya penyakit Alzheimer, tetapi tidak selalu menyebabkan penyakit Alzheimer. ApoE adalah gen yang mempunyai tiga bentuk yang berbeda apoE2, apoe3  dan apoE4. Bentuk yang apoE4 gen telah dikaitkan dengan peningkatan resiko penyakit Alzheimer disebagian besar populasi yang dipelajari. Munculnya gen apoE4dalam populasi manusia umum bervariasi, tetapi selalu kurang dari30% dan sering 8%-15%. Seseorang yang memiliki satugen E4 biasanya memiliki sekitar dua sampai tiga kali lipat peningkatan resiko pennyakit Alzheimer. Orang dengan dua gen E4 (biasanya sekitar 1% dari populasi) memiliki sekitar sembilan kali lipat peningkatan resiko. Meskipun demikian, bahkan orang-orang dengan dua gen E4 tidak selalu mendapatkan penyakit Alzheimer. Setidaknya satu salinan E4 ditemukan dalam 40% dari  penderita dengan sporadis atau onset lambat terhadap penyakit ini.

Ini berarti bahwa sebagian besar penderita Alzheimer tanpa memiliki faktor resiko genentik belum ditemukan. Kebnyakan ahli tidak menyarankanuji genetika untuk gen apoE4 karena tidak ada pengobatan untuk Alzheimer. Ketika perawatan medis berusahan mencegah atau mengurasi resiko penyakit menjadi tersedia, pengujian genetik dapat direkomendasikan untuk anak-anak penderita Alzheimer sehingga mereka dapat mempersiapkan sejak dini.
  
1.                      HIPERTENSI             
 Faktor resiko lain untuk penyakit Alzheimer termasuk tekanan darah tinggi (hipertensi), penaykit arteri koroner, diabetes dan mungkin kolesterol tinggi. Orang-orang yang telah menyelesaikan kurang dari  delapan tahun pendidikan juga memiliki peningkatan resiko penyakit Alzheimer. Faktor-faktor ini meningkatkan ressiko penyakit Alzheimer tetapi tidak berarti bahwa penyakit Alzheimer tiadak dapat dihindari orang tersebut.

2.                       PENYAKIT
Semua penderita dengan sindrom down akan mengalami perubahan otak penyakit Alzeimer dengan usia 40 tahun.

3.                       OBAT-OBATAN
Banyak obat-obatan dapat menyebabkan  kerusakan kognitif, terutama pada usia lanjut. Mungkin yang paling sering adalah obat yang dipakaiuntuk mengontrol mendesak kandung kemih. “Psychiatrik obat” seperti anti-depressants dan obta anti-kecemasan dan “neorologis obat” seperti obat anti-kejang juga dapat dikaitkan dengan kerusakan kognitif. Jikaseorang dokter menilai seseorang denagn kerusakan kognitif akibat salah satu obat-obatan, obat-obatan sering sering dihentikan untuk menentukan apakah itu yang menjadi penyebab kerusakan kognitif. Jika jelas bahwa kerusakan kognitif mendahului penggunaan obat-obat ini penghentian tidak diperlukan . Untuk mengatasi kejiwaan, syaraf dan mengompol, obat-obatan sernig diresepkan penderita dengan penyakit Alzheimer. Hal ini perlu diikuti dengan cermat uintuk menentukan apakah obat-obat ini menyebabkan memburuknya kognisi.

4.                       GANGGUAN KEJIWAAN
Pada orang tua, beberapa bentuk depresi dapat menyebabkan masalahdengan memori dan konsentrasiyang pada awalnya dapat dibedakan dari awal gejala penyakit Alzheimer. Kadang-kadang kondisi ini yang disebut sebagai pseudodementia. Penelitian telah menunjukkan bahwa orag dengan depresi gangguan (berpikir, memori) sangat munkin mendasari dimensia jika terjadi selama beberapa tahun.

5.                       GANGGUAN METABOLIK
Tiroid disfungsi, beberapa gangguan steroid, dan kekurangan gizi seperti vitamin B12 atau kekurangan vitamin kadang-kadang dikaitkan dengan kerusakakan kognitif.

6.                       TRAUMA
     Cedera kepala yang signifikan dengan memar oatk dapat menyebabkan dimensia. Adanya gumpalan darah disekitar bagian otak (sudural hematomas) mingkinm berkaitan dengan diamensia. Beberapa studi menemukan bahwa penyakit Alzheimer lebih sering dikalangan orang-orang yang mederita trauma signifikan cedera di bagian kepala pada awal kehidupan, khususnya dikalangan orang-orang yang gen apoE4.

7.                       FAKTOR-FAKTOR RACUN
Efek jangka panjang keracunan akut karbon monoksida dapat mengarah pada kematian sel saraf. Dalam beberapa khasus yang jarang, keracunan logam berat dap[at dikaitkan dengan dimensia.

8.                       JENIS KELAMIN
Sebagian penelitian telah menemukan bahwa wanita memiliki resiko yang lebih tinggi untuk penyakit Alzheimer dari pada laki-laki. Memang benar bahwa wanita hidup lebih lama dari pada laki-laki, tapi  usia sendiri tampaknyatidak  menjelaskan peningkatan frekwensi pada wanita. Tampak penuingkatan frekwensi penyakit Alzheimer pada wanita. Banyka penelitian tentang peran hormon estrogen pada penyakit Alzheimer. Kajian terbaru menyarankan bahwa estrogen tidak boleh diresepkan kepada wanita pasca menopause untuk tujuan mengurangi resiko penyakit Alzheimer. Meskipun demikian, peran estrogen pada penyakit Alzheimer tetap menjadi fokus penelitian.

9.                       PENDIDIKAN  
Selain itu, banyak studi telah menunjukkan  bahwaorang dengan pendidikan formal yang terbatas biasanya kuranhg dari delapan tahun ada peningkatan resiko untuk penyakit Alzheimer. Tidak diketahui apakah hal ini mencerminkan penurunan kognitif cadangan atau faktor lain yang terkait dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah.

Diagnosis Penyakit Alzheimer
Anamnesia klinis seperti pemeriksaan neurologis, neurradiologis, internitis dan pemeriksaan neuropsikologis merupakan pemeriksaan yang harus dilakukan pada penyakit Alzheimer. Pemeriksaan darah lengkap termasuk defenisi vitamin B12, hipotiroid juga perlu dilakukan. Selain itu hal yang perlu mendapat perhatian adalah faktor genetik dan sosial serta penggunaan obat-obatan.
Tidak ada tes darah spesifik atau pencitraan tes yang digunakan untuk diagnosis penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer didiagnosis ketika:
1.         Seseorang memiliki penurunan kognitif yang memadai untuk memenuhi kriteria dianggap     dimensia
2.         Kondisi klinis konsisten dengan penyakit Alzheimer
3.         Tidak ada penyakit—penyakit otak yang lain atau proses lainnya sebagai penjelasan lebih kuat sebagai penyebab dimensia.

Karena banyak gangguan lain yang dapat disamakan dengan penyakit Alzheimer, evaluasi klinis yang komprehensif panting dalam mencapai diagnosis yang benar. Semacam penilaian harus mencakup setidaknya tiga komponen utama:
1.         Pemeriksaan medis umum yang menyeluruh
2.         Suatu pemeriksaan yang neurologis termasuk pengujian memori dan fungsi lain berfikir
3.         Evaluasi psikiatris untuk menilai  suasana hati,gundah dan menyegakan pikiran.

   Prosedur pencitraan yang melihat fungsi otak(fungsional neuron imaging), seperti SPCET dan PET mungkin dapat membantu dalam kasus-kasus tertentu, terapi umumnya tidak diperlukan,. Tes lainnya yang umum dipakai adalah CT scan,MRI, dan tes darah. Pada tahap dini dari panyakit ini, gambaran otak umumnya normal, tetapi CT scan dapat dipakai untuk menyingkirkan lain seperti tumor otak atau stroke. Sedangkan pada tahap lanjut, melalui MRI dapat diketahi adanya penurunan ukuran korteks otak atau area oatk yang bertanggung jawabterhadap fungsi memori (hipokampus). Selain itu,testpsikologi,meliputi ‘screening of despression’ dan pemeriksaan ‘mini mental state’, dapat membantu ddalam menentukan seberapa beratnya dimensia tersebut.

Penyakit Alzheimer hanya dapat didiagnosa dimana pada pemeriksaan jarngan otaknya didapat gambaran patologis anatomis yang menjadi ciri khas Alzheimer, yakni plak yang berisi protein beta-ayloid. Namun dalam baynak sistem  kesehatan otak bukan sebagai bagian dari standar pencitraan dan penilaian untuk menngetahui penyakit Alzheimer. Meskipun banyak usaha, identifikasi tes darah untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer tetap sukar dipahami pengujian tersebut tidak dianjurkan.

Gejala yang harus diperhatikan terutama munculnya gejala MCI berupa gangguan memori namun fungsi kognitif masih normal. Aktivitas sehari-hari juga dalam stadium ini belum terganggu. Gejala ini perlu ditanggapi dengan serius karena penyandang stadium ringan memunyai resiko untuk mengidap penyakit demensia penyakit Alzheimer. Gejala yang muncul pada penderita penyakit Alzheimer dimulai dari permasalahan belajar, gangguan berbahasa dan gangguan intelektual. Tanda-tanda klinis ini bisa berupa kemunduran intelektual secara pogresif dalam jangka waktu pendek seperti kehilangan ingatan, disorientasi topografi, kesulitan untuk menemukan kata-kata, anomia dan iritabilitas yang bisa diiringi oleh perubahn karakter, halusinansi dan depresi. Kematian pada umumnya terjadi dalam batas waktu 6 sampai 7 tahun sesudah menderita penyakit tersebut. Delapan puluh persen (80%) dari jumlah kematian pada penderita penyakit Alzheimer disebabkan oleh pneumonia dan gangguan sirkulasi seperti dehidrasi.

Akibat Demensia Alzheimer
Penderita yang berada di tahap sederhana dan parah akan menunjukkan tingkah laku yang aneh. Diantaranya seperti menjerit, terpekik dan mengikuti perawat kemana saja. Penderita yang terkena penyakit ini dapat menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.

Selain itu, orang yang sakit juga mendengar  suara atau bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan.Semua ini secara tidak langsung memberi tekanan mental kepada perawat sebab mereka terpaksa menjaga orang yang sakit setiap hari. Orang yang sakit juga kadang kala akan berjalan kesana sini tanpa sebab dan polatidur mereka juga berubah. Penderita yang sakit akan lebih banyak tidur pada  waktu siang dan terbangun pada waktu malam.

Yang menyedihkan adalah orang yang sakit itu sendiri tidak memahami apa yang terjadi pada diri mereka dan memerlukan bantuan orang lain. Penyakit Alzhimer ini, tidak dapat disembuhkan.Tetapi gejalanya masih dapat dikendalikan dengan obat-obatan. Secara umum orang sakit yang didiagnosis mengidap penyakit ini meninggal dunia akibat radang paru-paru atau pneumonia. Ini disebkan pada waku itu orang yang sakit tidak dapat melakukan sembarang aktivitas lain. Obbat-obatan yang diberi pada tingkat awal, dapat membantu ingatan penderita seperti kognitifaktivitas harian an tingkah laku. Berdasarkan kondisi dan gejala-gejala yang dialami penyakit ini dibagi menjadi empat tahap.


1.Tahap-Tahap Penurunan Kemampuan Akibat Penyakit Alzheimer
A.Tahap Pra Dimensia
Gejala perttama sulit diketahui, sering keliru dianggap akibat penuaan normal atau stres. Detailed neuropsikologi pengjian dapat mengungkapkan kesulitan kognitif ringan hingga delapan tahun sebelum seseorng memenuhi kriteria klinis untuk diagnosis penyakit Alzeimwer.Gejala awal ini dapat mempengaruhi paling kompleks aktivitas kehidupan sehari-hari. Yang paling mencolok adalah hilangnya ikatan atau berkurangnya memori (deficit), yang munmcul sebagai kesulitan dalam lajar-lajar baru-baru ini mengingatkan fakta dan ketidakmampuan untuk mendapatkan informasi yang baru. Terjadi masalah-masalah yang masih samar terhadap fungsi perhatian, perencanaan, fleksibillitas , dan pemikiran abstrak, atau gangguan dalam memori semantik (memori makna, dan konswep hubungan), juga dapat berupa gejala kesulitan perhitungan. Tahap penyakit juga telah disebut kerusakan kognitif ringan.

B.Tahap Dimensi Awal
Kondisi penderuta padatahap ini terjadi peningkatan gangguan belajar dan memori (ingatan) yang akhirnya memperjelas untuk di diagnosis sebagai penyakit Alzheimer. Pada sebagian kecil pada penderita mengalami kesulitan dengan bahasa, fungsi persepsi dan pelaksanaan gerakan, masalah-masalah tersebut lebih menonjol daripada masalah memori yang sama. Ingatan dari peristiwa-peristiwa hidup, kemampuan belajar (semantik memori) dan memori tubuh tentang  cara untuk melakukan suatu pekerjaan mengalami penurunan ketingkat kemampuan yang lebih rendah dibandingkan kemampuan mengingat fakta-fakta baru atau peristiwa-peristiwa baru dalam hidupnya.

Masalah bahasa terutama dapat dicirikan oleh menyusutnya kosa kata dan berkurangnya kefasihan bicara yang menyebabkan menjadi miskin lisan dan tulisan. Pada tahap ini, orang dengan penyakit Alzheimer biasanya mampu berkomunikasi secara memadai ide-ide dasar. Sementara melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan geakan tubuh halus (fungsi motorik halus) seperti menulis, menggambar atau berpakaian, gerakan tertentu kesulitan koordinasi dan perencanaan dapat hadir, mmembuat penderita tampak canggung. Ketika penyakit berkembang,orang-orang dengan AD dapat sering dengan terus untuk melakukan banyak tugas secara independen, tapi mungkin perlu bantuan atau pengawasan dengan kegiatan yang membutuhkan fungsi kognitif (pemikiran) tinggi.

Pada tahap ini penderita juga mempunyai kecenderungan untuk kehilangan energi atau bersikap spontan, yang akan mengubah perilaku mereka dan perilaku ini tidak dapat dimengertioleh kelurga. Tahap ini disebut juga Mild Cognitive Impairment (MCI), dimana tidak ada kriteria yang dapat menegakkan diagnosis bahwapenderita mengidap Alzheimer lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor telepon ialah diantaranya sebagian gejala ringan. Apabila orang yang sakit lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan atau cara-cara mengaduk air dikategerikan sebagai tingkat sederhana.

   C.Tahap Dimensi Moderate (sedang)
   Pada tahap ini perjalanan penyakit menuju ke tahap tengah, penderita mungkinmasih bisa melakukan rutinitas sehari-hari sendiri, tapi memerlukan bantuan untuk aktivitasyang lebih kompleks yang berhubungan dengan kemampuan kognitif dan memori seperti menghitung dan lain-lain. Apabila orang yang sakit sudah tidak mampu melakukan perkara asas sendiri seperti mengurus diri sendiri, keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga terdekat, ia menandakan orang yang sakit berada di tingkat yang serius.

Kemerosotan progresif akhirnya menghalangi kebebasan dalam beraktivitas. Kesulitan dengan mengemukakan dalm behasa karena ketidakmampuan dalam mengingat kosa kata, sehingga menggunakan kata-kata yang salah atau pengucapan yang tidak tepat. Keterampilan membaca dan menulis juga semakin hilang. Kompleksitas urutan gerak menjadi kurang terkoordinasi dengan berjalannya waktu. Mengurangi kemampuan untuk melakukan paling noormal aktivitas kehidupan sehari-hari.

Selama fase ini, masalah memori memburuk, dan mungkin orang gagal untuk mengenali kerabat dekat. Memori jangka panjang,  yang sebelumnya utuh menjadi terganggu, dan perubahan perilaku menjadi kejadian yang biasa. Perubahan kondisi mental atau psikis, penurunan kemampuan bicara, iritabilitas dan dan kondisi yang labil mudah terpengaruh, yang menyebabkan menangis, ledakan keinginan mental tidak direncanakan, atau penolakan terhadap pengasuhan. Kira-kira 30% dari penderita ajuga kehilangan kemampuan identifikasi serta terjadi gejala ilusi dan delusi. Pengeluaran uurin atau buang air kecil yang tidak normal. Gejala ini membuat kesulitan  bahkan stres bagi kerabat dan pengasuh.
  
D.Tahap Dimensi Parah
Ketika kondisi ini terjadi penderita sudah benar-benar tergantung kepada pengasuh. Bahasa sederhana direduksi menjadi frasa atau bahkan  satu kata pun akhirnya menimbulkan kehilangan keseluruhan kemampuan bicara. Meskipun kehilangn kemampuan bahasa verbal, penderita seringkali dapat mengerti. Walaupun agresivitas masih dapat terjadi, namunlebih sering dalam keadaan apatis dan kelelahan merupakan kondisi yang umum terjadi. Pada akhirnya penderita tidak dapat melakukan tugas-tugas yang paling sederhana tanpa bantuan. Kemampuan bergerak dan otot tubuh memburuk ke titik dimana mereka terbaring di tempat tidur, dan mereka kehilangan kemampuan untuk makan sendiri. Alzheimer adalah penyakit terminal dengan penyebab kematian biasanya mejadi faktor eksternal seperti infeksi atau radang paru-paru, bukan oleh penyakit itu sendiri.

Pada tahap ini penyakit menuju tahap akhir, penderita tidak mampu melakukan rutinitas yang paling sederhana sekalipun. Kemampuan pebderita  sangat terbatas, ia memerlukan pengawasan yang terus menerus. Kontrol terhadap buang air kecil maupun buang air besar menjadi hilang. Ia dapat buang kotoran disembarang tempat. Ia juga tidak dapat makan dan berjalan tanpa pengarahan. Kemudian dpat terjadi kehilangan kemampuan untuk menelan makanan dan miniman, tentu saja ini menyebabkan kematian.

2.Kerusakan Kogntif
Kriteria untuk dimensia yang kuno berarti bahwa penderita pasti punya cukup penurunan kemampuan untuk berfikir sebelum didiagnosis dimensia. Perkembangan  penyakit Alzheimer begitu berbahaya dan lambat, bahwa penderita mengalami penurunan memori jelas lebih buruk dari pada yang awal, namun belum memenuhi kriteria untuk dimensia.Seseorang terpengaruh dengan kondisi awal dimensia Alzheimer memiliki kerusakan kognitif yang ditunjukkan pada tes neuropsikologi Formal tapi masih dapat berfungsi dengan baik. Pengujian neuropsikologi formal biasanya berarti bahwa penderita diberikan tes standar memori dan berfikir. Beberapa dari tes ini adalah seperti tes IQ. Ketika tes ini dikembangkan  mereka diberikan kepada ratusan atau ribuan orang sehingga statistik yang tersedia untuk mengatakan beberapa nilai seseorang dibandingkan dengan sampel orang-orang sehat pada usia yang sama. Jika seseorang skor diatas 50%, itu berarti bahwa dia lebih baik sekurang-kurangnya 50% dari orang normal lain yang mengambil ujian.

Mungkin yang paling umum dikaitkan dengan  gangguan dalam memori (ingatan), tetapi tidak dalam kemampuian untuk merencanakan dan akal. Orang dengan tipe ini disebut amnesia (berarti tidak ada memori)  memiliki fresiko tinggi penyakit Alzheimer berkembang selama beberapa tahun. Orang yang memiliki ingatan masih baik tetapi mengalami gangguan penalaran atau kesulitan mengambil keputusan (non-amnestic MCI) memiliki resiko lebih rendah berpenyakit Alzheimer.

Perawatan dapat mengurangi penyakit Alzheimer yang menyerang atau memperlambat laju perkembangannya. Saat ini tidak ada lagi obat-obatan yang dikembangkan akan mempercepat laju perkembangan MCI penyakit Alzheimer atau benar-benar mencegah perkembangan penyakit Alzheimer.

Perawatan dan Pengobatan
Sebagian orang dengan penyakit Alzheimer dapat tetap di ruumah selama beberapa bantuan yang diberikan oleh orang lain dapat memenuhi keperluannya. Selain itu, sepanjang perjalanan peenyakit, dapat dilakukan usaha mempertahankan kemampuan seseorang dengan hubungan  interpersonal yang hangat, dan berpartisipasi  dalam berbagai kegiatan yang bermakna dengan keluarga dan teman-taman.

Seseorang dengan penyakit Alzheimer mungkin tidak lagi mampu mengerjakan hitungan matematika tetapi mungkin dapat membaca majalh dengan mudah senang hati sehingga dapat membantu pengendalian emosionalnya. Begitu juga dengan aktivitas sosial dan keagamaan masih dapat dilakukan dengan baik. Bersantai bersama dengan orang lain mungkin masih menjadi acara yang menyegarkan pikiran. Ini merupakan jonsep perwatan yang perlu kamu ketahui untuk mengurangi atau menghambat laju perkembangan penyakit. Jika kondisi mental di tingkat stres terjaga dengan baik, maka proses-proses metabolisme tubuh seimbang dan tidak terjadi produksi hormon serta zat lain yang dapat mempercepat perkembangan penyakit.
Permainan dan pekerjaan yang rumit perlu disingkirkan jika memang sudah tidak sanggup melakukannya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban stres. Namun olahraga bermain tenis atau sejenisnya masih bisa dinikmati. Jadi, meskipun banyak kesulitan dalam kehidupan dalam kehidupan penderita penyakit Alzheimer namun dengan keluaarga mereka masih banyak kesempatan tetap untuk interaksi positif. Tantangan, frustasi, kedekatan, kemarahan, kehangatan, kesedihan, dan kepuasan mungkin semua akan dialami oleh orang-orang yang membantu orang penderita penyakit ini.

Kondisi penderita penyakit Alzheimer tidak sama dan kemampuannya untuk mengatasi juga berbeda-beda. Teergantung pada faktor-faktor sepeti pola kepribadian dan sifat dan tingkat keparahan stres dilingkungan terdekat. Depresi, kegelisahan berat, paranoia, atau delusi dapat menyertai atau hasil dari penyakit, tetapi kondisi ini sering dapat ditingkatkan dengan perawatan yang tepat. Meskipun tadak ada obat untuk penyakit Alzheimer, perawatan yang tersedia untuk mengurangi gejala yang menyebabkan kesulitan.

Pengelolaan penyakit Alzheimer terdiri dari berbasis obat-obatan dan perawatan berbasis non-obat. Dua golongan yang berbeda dari obat-obatan yang disetujui oleh FDA untuk mengobati penyakit Alzheimer: cholinesterase inhibitor dan antagonis glutamat parsial. Baik golongan obat yang telah terbukti untuk memperlambat laju perkembangan penyakit Alzheimer.

Pada penderita dengan penyakit Alzheimer ada relatif kurangnya zat kimia otak yang disebut asetilkolin. (Neurotransmiitter adalah pembawa pesan kimia yang diproduksi oleh saraf-saraf yang digunakan untuk berkomunikasi dengan satu sama lain dalam rangka untuk melaksanakan fungsinya). Penelitian telah menunjukkan bahwa asetilkolin adalah penting dalamkemampuan  untuk membentuk memori baru. Akibatnya jika asetilkolin lebih tersedia di otak, mungkin menjadi lebih mudah untuk membentuk ingatan baru. Berbasis non-obat memaksimalkan perawatan penderita termasuk kesempatan untuk interaksi sosial dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seperti jaln kaki dan senam  masih bisa dinikmati.

1.            Obat
Empat macam obat ChEls telah disetujui oleh FDA, tetapi hanya donepezil hydrochloride (aricept), rivastigmine (Exelon), dan galantamine (Razadine-yang sebelumnya disebut Reminyl) digunakan leh kebanyakan dokter karena obat keempat,tacrine (Cognex) emiliki lebih banyak efek samping yang tidak diinginkan dibandingkan tiga lainnya. Kebanyakan ahli dalam penyakit Alzheimer tidak percaya ada perbedaan penting dalam efekktivitas dalam ketiga obat-obatan. Beberapa studi menunjukkan bahwa perkembangan gejala penderita pada obat-obatan ini tampaknya dataran tinggi selama enam sampai 12 bulan, tapi perkembangan pasti mulai lagi kemudian.

Rivastigmine dan Galantamine hanya disetujui oleh FDA untuk kondisi ringan hingga sedang penyakit Alzheimer, sedangkan donepezil ini telah disejui untuk kondisi ringan, sedanmg dan berat penyakit Alzheimer. Tidak diketahui apakah Rivastigmine dan galantimine juga efektif untuk penyakit Alzheimer berat.

Efeksamping dari Chels melibatkan sistem pencernaaan dan mencakup mual, muntah, kram, dan diare. Biasanya efek samping ini dapat dikonntrol dengan perubahan ukuran aatu dsari dosis atau pemberian obat dengan jumlah kecil makanan. Antara  75% dan 90% dari penderita akan mentoleransi dosis teraupetik Chels.

Satu teori menunjukkan bahwa terlalu banyak glutamat mungkin buruk untuk otak dan menyebabkan kerusakan dan sel-sel saraf memantine (namenda) bekerja mengurangi efek glutamat untuk mengaktifkan sel-sel saraf. Belum terbukti bahwa memantine memperlambat laju perkembangan penyakit alzheimer. Penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa penderita di memantine bisa memperhatikan diri mereka sendiri lebih baik dibandingkan penderita pada piligula (plasebo). Memantine ini telah disetujui untuk pengobatan ringan dan berat demensia, dan studi tidak menunjukkan hal itu membantu dalam demensia ringan.

2.            Pengobatan Psikiatri
Gejala penyakit alzheimer termasuk abitasi, depresi, halusinasi, cemas dan tidur gangguan. Standar psikiatri obat banyak digunakan  untuk mengobati gejala-gejala ini meskipun tidak ada obat inii yang telah secara khusus disetujui oleh FDA untuk mengobati gejala-gejala pada penderita dengan penyakit alzheimer. Jika perilaku ini jarang atau ringan, mereka sering tidak memerlukan perawatan dengan obat-obatan.non langkah farmatologi dapat sangat berguna.
Namun demikian,seringkali gejala-gejala ini sangat parah sehingga menjadi mustahil bagi pengasuh untuk merawat penderita, dan pengobatan dengan obat-obatan untuk mengontrol gejala ini menjadi perlu. Agitasi adalah umum,terutama di tengah dan kemudian tahap penyakit alzheimer.banyak zat berbeda tekah di coba untuk mengobati agitasi:
·         Antipsikotik
·         Antikonvulsan(menstabilkan suasana hati)
·         Trazodone(desyrel)
·         Anxiolytics,dan
·         Beta-blockers



Terapi
 Penanggulangan penyakit Alzheimer membutuhkan paket penanganan secara komprehensif mencakup terapi farmakologik dan non-farmakologik termasuk terapi sosiopsikologik yang melibatkan anggota keluarga. Tujuan utama dari paket ini adalah untuk memperbaiki secara keseluruhan fungsi metabolisme neuron dapat dilakukan dengan terapi farmaka berupa obat-obat neutropik. Sementara untuk menghindarkan kerusakan neuron dapat dilakukan dengan menghindarkan zat-zat yang sifatnya toksik.
Faktor-faktor lain yang harus diperhatikan dalam pemberian terapi farmaka pada kelompok lanjut usia adalah yang menyangkut fungsi organ seperti ginjal dimana klearensya yang sudah menurun. Demikian juga halnya dengan menurunnya metabolisme hati. Oleh sebab itu, pemberian obat-obatan yang dapat menggangu fungsi kognitif seperti antihistaminika, antidepresi, benzodiazepin, penggunaan opioid dalam pengobatan nyeri harus ekstra hati-hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar