Penyakit
Alzheimer
Penyakit Alzheimer adalah penyakit
degeneratif dan progresif, penyebab demensia paling sering. Penderita penyakit
Alzheimer pada umumnya ditemukan pada usia lanjut namun bisa juga ditemukan
pada umur yang muda (Small et al., 1997). Tanda-tanda klinis yang utama adalah
kehiangan memori, penurunan fungsi kognitif yang pada akhirnya menyebabkan
kehilangan kemampuan untuk mengurus diri sendiri. Keadaan ini akan berdampak
pada ketergantungan hidup sehari-hari baik dari keluarga ataupun pendamping.
Pertama kalinya ditemukan pada tahun
1906 oleh Alois Alzheimer seorang neuroog dan psikiater Jerman. Alzheimer
ditemukan pada seorang penderita berumur 51 tahun yang meninggal 4 tahun
kemudian sesudah menderita demensia. Gejala klinis dari penderita tersebut
selain demensia juga ditemukan gangguan perilaku termasuk stress, depresi serta
paranoid.
Mengenal
Penyakit Alzheimer
Alzheimer atau
kepikunan merupakan sejenis penyakit penurunan fungsi saraf otak yang kompleks
dan progresif yang disebabkan karena berkurangnya gizidi otak. Penyakit
Alzheimer bukannya sejenis penyakit menular. Penyakit Alzheimer adalah keadaan
dimana ingatan seseorang merosot dengan parahnya sehingga pengidapnya tidak
mampu mengurus diri sendiri. Penyakit Alzheimer bukannya karena sekedar usia
tua atau hanya suatu proses penuaan biasa. Sebaliknya, ia adalah sejenis
masalah kesehatan yang menimpa dimasa tua dan perlu diberikan perhatian sejak
kamu masih muda.
Alzheimer
digolongkan kedalam salah satu dari jenis (dementia) yang dicirikan dengan
melemahnya kemampuan bahasa, kewarasan, ingatan, pertimbangan, perubahan
kepribadian dan tingkah laku yang tidak terkendali. Keadaan ini sangat
membebani bukan saja kepada pengidapnya namun juga kepada anggota keluarga yang
menjaga. Penyakit Alzheimer yang menurunkan fungsi memorijuga menghilangkan
fungsi intelektualdan sosial dalam hidup penderita. Biasaanya baru diketahui
setelahanggota keluarga datang membawa orang yang sakit berjumpa dokter apabila penderita sudah mencapai tahap yang
cukupparah sehingga familinya sudah tidak dapat mengatasi masalah-masalah orang
yang sakit.
Hingga kini
sumber penyakit yang sebenarnya tidak diketahui. Tetapi bisa dipastikan bahwa bukanlah disebabkan penuaan
normal. Hal ini diketahui dari banyak orang dalam usia tua tidak mengalami
gangguan ini. Bagaimanapun ilmuan berpendapat, ia dikaitkan dengan pembentukan
dan perubahan pada sel-sel saraf yang normal menjadi abnormal. Resiko untuk
mengindap penyakit yang sinonim dengan orang tua ini terus meningkat seiring
dengan pertambahan usia. Bermula pada usia 65 tahun, seseorang mempunyai resiko
5%mengidap penyakit ini, dan resiko ini meningkat dua kali lipat setiap lima
tahun. Walaupun penyakit ini dikaitkan dengan orang tua, namun sejarah
membuktikan bahwa ada orang pertama yang didiagnosis secara pasti menderita
penyakit ini, ia adalah wanita dalam usia awal lima puluh tahunan.
Penyakit Alzheimer adalah penyakit progresif
perlahan-lahan menurunkan kemampuan otakyang ditunjukkan oleh gangguan memori
dan akhirnya gangguan dalam penalaran, perencanaan, bahasa, dan persepsi. Banyak ilmuwan percaya bahwa
penyakit Alzheimer hasil dari peningkatan produksi atau penumpukan zat protein
tertentu (beta-amiloid protein) dalam otak yang menybabkan kematian sel saraf.
Kemungkinan seseorang terkena penyakit
Alzheimer meningkat secara substansial setelah usia tujuh puluh tahun dan dapat
mempengaruhisekitar separuh dari orang-orang diatas usia 85 tahun. Meskipun
demikian, penyakit Alzheimer bukan merupakan bagian normal dari penuaan dan
bukanlah sesuatu yang pasti terjadi di kemudian hari. Sebagai contoh, banyak
orang hidup untuk lebih seratus tahun dan tidak pernah terkena penyakit
Alzheimer.
Penyebab
Penyakit Alzheimer
Penyebab dan
perkembangan penyakit Alzheimer tidak
diketahui secara pasti. Penelitian menunjukkan bahwa penyakit itu
berhubungan dengan plak atau kusut di
otak. Saat ini digunakan pengobatan simptomatik menawarkan keuntunganyang
kecil, tidak ada perawatan untuk menunda atau menghentikan perkembangan
penyakit yang belum tersedia. Pernah dilakukan uji kliinis menyelidiki
kemungkinan pengobatan terhadapnya,tetapi tidak terbukti toingkat
kesuksesannya.
Banyak langkah-langkah
yang diusulkan untuk pencegahan penyakit Alzheimer, tetapi ada kekurangan
dukungan yang menunjukkan bahwa proses degeneratif dapat diperlammbat. Mental
stimulasi, latihan, dan diet sewimbang yang disarankan, baik secaqra pencegahan
dan mungkin cara yang bijaksana mengelola penyakit.Karena penyakit ini tidak
dapat disembuhkan dan bersifat
degeneratif, manajemen penderita sangat penting. Peran utama pengasuh sering
diambil oleh pasangan dan kerabat dekat
penyakit Alzheimer dikenal untuk menempatkan beban yang besar pengasuh; tekanan
dapat luas,melibatkan sosial, psikologis, fisik dan unsur-unsur ekonomi dari
kehiduipan pengasuh. Dinegara-negara maju Alzheimer merupakan salah satu
peyakit yang paling mahal secara ekonpomis bagi masyakrakat.
Penyebab pasti
penyaklit ini belum dapat diketahui. Namun menurut penelitian yang terkenal
menghasilkan hipotesis “kaskade amiloid”. Data yang paling kuat mendukung
hipotesis kaskade amiloid berasal dari studi pewarisan (genetik) penyakit
Alzheimer. Mutasi yang terkait dengan penyakitr Alzheimer telah ditemukan
sekitar separuh dari penderita penyakit onset dini. Dalam semua penderita,
mutasi menyebabkan kelebihan produksi di dalam otak bentuk spesifik protein
kecil yang disebut fragmen A beta (Aâ). Banyak ilmuwan percaya bahwa disebagian
besar dari semua penyakit Alzheimer yang terjadi. Banyak penelitian menemukan
cara untuk mencegahdan memperlambat penyakit Alzheimer telah berfokus pada cara-cara untuk mengurangi jumlah protein Aâ
di otak.
Faktor-faktor resiko
penyakit Alzheimer terdiri dari faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan dan
yang dapat dikendalikan.
1. USIA
Faktor risiko
utama untuk penyakit Alzheimer adalah meningkatnya usia. Frekuensi penyaklit Alzheimer terus meningkat
10% orang diatas 65 tahun dan 50% dari mereka lebih Dari 85 tahun memiliki penyakit Alzheimer. Kecuali
pengobatan baru dikembangkan untuk mengurangi kemungkinan meningkatnya penyakit
Alzheimer.
Kemungkinan
terjangkitnya penyakit Alzheimer dua kali lipat setiap 5,5 bertambahnya umur
orang-orang yang berusia antara 65-85 tahun. Sedangkan jumlah penderita hanya
sekitar 1%-2% dari orang berusia 70 tahun. Dalam beberapa studi sekitar 40%
dari orang usia 85 tahun mempunyai penyakit Alzheimer. Meskipun demikian,
setidaknya setengah dari orang-orang yang hidup melewati usia 95 tahun tidak
memiliki penyaki ALZHEIMER.
2. GENETIK
Kebanyakan
penderita menderita penyakit Alzheimer setelah umur 70 tahun. Namun, 2% -5%
dari penderita menderita penyakit pada dekade keempat atau kelima kehidupan
sekitar umur 40 tahun keatas. Setidaknya setengah dari penderita muda ini
karena telah mewarisi mutasi gen yang terkait dengan penyakit Alzheimer .
Selain itu, anak-anak dari penderita itu
yang memiliki salah satu mutasi gen ini mempunyai 50% resiko
berkembangnya penyakit Alzheimer. Ada juga resiko genetik untuk kasus serangan
akhir. Pewarisan sifat pada gen terletak
pada kromosom 19 ini dikaitkan dengan onset terlambat penyakit Alzheimer. Pada
sebagian besar kasus penyakit Alzheimer tanpa faktor gen.
Umumnya bentuk
gen tertentu meningkatkan rsiko tejadinya penyakit Alzheimer, tetapi tidak
selalu menyebabkan penyakit Alzheimer. ApoE adalah gen yang mempunyai tiga
bentuk yang berbeda apoE2, apoe3 dan
apoE4. Bentuk yang apoE4 gen telah dikaitkan dengan peningkatan resiko penyakit
Alzheimer disebagian besar populasi yang dipelajari. Munculnya gen apoE4dalam
populasi manusia umum bervariasi, tetapi selalu kurang dari30% dan sering
8%-15%. Seseorang yang memiliki satugen E4 biasanya memiliki sekitar dua sampai
tiga kali lipat peningkatan resiko pennyakit Alzheimer. Orang dengan dua gen E4
(biasanya sekitar 1% dari populasi) memiliki sekitar sembilan kali lipat
peningkatan resiko. Meskipun demikian, bahkan orang-orang dengan dua gen E4
tidak selalu mendapatkan penyakit Alzheimer. Setidaknya satu salinan E4
ditemukan dalam 40% dari penderita
dengan sporadis atau onset lambat terhadap penyakit ini.
Ini berarti
bahwa sebagian besar penderita Alzheimer tanpa memiliki faktor resiko genentik
belum ditemukan. Kebnyakan ahli tidak menyarankanuji genetika untuk gen apoE4
karena tidak ada pengobatan untuk Alzheimer. Ketika perawatan medis berusahan
mencegah atau mengurasi resiko penyakit menjadi tersedia, pengujian genetik
dapat direkomendasikan untuk anak-anak penderita Alzheimer sehingga mereka
dapat mempersiapkan sejak dini.
1.
HIPERTENSI
Faktor resiko lain untuk penyakit Alzheimer
termasuk tekanan darah tinggi (hipertensi), penaykit arteri koroner, diabetes
dan mungkin kolesterol tinggi. Orang-orang yang telah menyelesaikan kurang
dari delapan tahun pendidikan juga
memiliki peningkatan resiko penyakit Alzheimer. Faktor-faktor ini meningkatkan
ressiko penyakit Alzheimer tetapi tidak berarti bahwa penyakit Alzheimer tiadak
dapat dihindari orang tersebut.
2.
PENYAKIT
Semua penderita dengan sindrom down
akan mengalami perubahan otak penyakit Alzeimer dengan usia 40 tahun.
3.
OBAT-OBATAN
Banyak obat-obatan dapat
menyebabkan kerusakan kognitif, terutama
pada usia lanjut. Mungkin yang paling sering adalah obat yang dipakaiuntuk
mengontrol mendesak kandung kemih. “Psychiatrik
obat” seperti anti-depressants dan obta anti-kecemasan dan “neorologis
obat” seperti obat anti-kejang juga dapat dikaitkan dengan kerusakan kognitif.
Jikaseorang dokter menilai seseorang denagn kerusakan kognitif akibat salah
satu obat-obatan, obat-obatan sering sering dihentikan untuk menentukan apakah
itu yang menjadi penyebab kerusakan kognitif. Jika jelas bahwa kerusakan
kognitif mendahului penggunaan obat-obat ini penghentian tidak diperlukan .
Untuk mengatasi kejiwaan, syaraf dan mengompol, obat-obatan sernig diresepkan
penderita dengan penyakit Alzheimer. Hal ini perlu diikuti dengan cermat uintuk
menentukan apakah obat-obat ini menyebabkan memburuknya kognisi.
4.
GANGGUAN
KEJIWAAN
Pada orang tua, beberapa bentuk
depresi dapat menyebabkan masalahdengan memori dan konsentrasiyang pada awalnya
dapat dibedakan dari awal gejala penyakit Alzheimer. Kadang-kadang kondisi ini
yang disebut sebagai pseudodementia. Penelitian telah menunjukkan bahwa orag dengan
depresi gangguan (berpikir, memori) sangat munkin mendasari dimensia jika
terjadi selama beberapa tahun.
5.
GANGGUAN
METABOLIK
Tiroid disfungsi, beberapa gangguan
steroid, dan kekurangan gizi seperti vitamin B12 atau kekurangan vitamin
kadang-kadang dikaitkan dengan kerusakakan kognitif.
6.
TRAUMA
Cedera kepala yang
signifikan dengan memar oatk dapat menyebabkan dimensia. Adanya gumpalan darah
disekitar bagian otak (sudural hematomas) mingkinm berkaitan dengan diamensia.
Beberapa studi menemukan bahwa penyakit Alzheimer lebih sering dikalangan
orang-orang yang mederita trauma signifikan cedera di bagian kepala pada awal
kehidupan, khususnya dikalangan orang-orang yang gen apoE4.
7.
FAKTOR-FAKTOR
RACUN
Efek jangka panjang keracunan akut
karbon monoksida dapat mengarah pada kematian sel saraf. Dalam beberapa khasus
yang jarang, keracunan logam berat dap[at dikaitkan dengan dimensia.
8.
JENIS
KELAMIN
Sebagian penelitian telah menemukan
bahwa wanita memiliki resiko yang lebih tinggi untuk penyakit Alzheimer dari pada
laki-laki. Memang benar bahwa wanita hidup lebih lama dari pada laki-laki,
tapi usia sendiri tampaknyatidak menjelaskan peningkatan frekwensi pada
wanita. Tampak penuingkatan frekwensi penyakit Alzheimer pada wanita. Banyka
penelitian tentang peran hormon estrogen pada penyakit Alzheimer. Kajian
terbaru menyarankan bahwa estrogen tidak boleh diresepkan kepada wanita pasca
menopause untuk tujuan mengurangi resiko penyakit Alzheimer. Meskipun demikian,
peran estrogen pada penyakit Alzheimer tetap menjadi fokus penelitian.
9.
PENDIDIKAN
Selain itu, banyak studi telah
menunjukkan bahwaorang dengan pendidikan
formal yang terbatas biasanya kuranhg dari delapan tahun ada peningkatan resiko
untuk penyakit Alzheimer. Tidak diketahui apakah hal ini mencerminkan penurunan
kognitif cadangan atau faktor lain yang terkait dengan tingkat pendidikan yang
lebih rendah.
Diagnosis
Penyakit Alzheimer
Anamnesia klinis seperti pemeriksaan
neurologis, neurradiologis, internitis dan pemeriksaan neuropsikologis
merupakan pemeriksaan yang harus dilakukan pada penyakit Alzheimer. Pemeriksaan
darah lengkap termasuk defenisi vitamin B12, hipotiroid juga perlu dilakukan.
Selain itu hal yang perlu mendapat perhatian adalah faktor genetik dan sosial
serta penggunaan obat-obatan.
Tidak ada tes darah spesifik atau
pencitraan tes yang digunakan untuk diagnosis penyakit Alzheimer. Penyakit
Alzheimer didiagnosis ketika:
1.
Seseorang memiliki penurunan kognitif
yang memadai untuk memenuhi kriteria dianggap dimensia
2.
Kondisi klinis konsisten dengan penyakit
Alzheimer
3.
Tidak ada penyakit—penyakit otak yang
lain atau proses lainnya sebagai penjelasan lebih kuat sebagai penyebab
dimensia.
Karena banyak gangguan lain yang
dapat disamakan dengan penyakit Alzheimer, evaluasi klinis yang komprehensif
panting dalam mencapai diagnosis yang benar. Semacam penilaian harus mencakup
setidaknya tiga komponen utama:
1.
Pemeriksaan medis umum yang menyeluruh
2.
Suatu pemeriksaan yang neurologis
termasuk pengujian memori dan fungsi lain berfikir
3.
Evaluasi psikiatris untuk menilai suasana hati,gundah dan menyegakan pikiran.
Prosedur
pencitraan yang melihat fungsi otak(fungsional neuron imaging), seperti SPCET
dan PET mungkin dapat membantu dalam kasus-kasus tertentu, terapi umumnya tidak
diperlukan,. Tes lainnya yang umum dipakai adalah CT scan,MRI, dan tes darah.
Pada tahap dini dari panyakit ini, gambaran otak umumnya normal, tetapi CT scan
dapat dipakai untuk menyingkirkan lain seperti tumor otak atau stroke.
Sedangkan pada tahap lanjut, melalui MRI dapat diketahi adanya penurunan ukuran
korteks otak atau area oatk yang bertanggung jawabterhadap fungsi memori
(hipokampus). Selain itu,testpsikologi,meliputi ‘screening of despression’ dan
pemeriksaan ‘mini mental state’, dapat membantu ddalam menentukan seberapa beratnya
dimensia tersebut.
Penyakit Alzheimer hanya dapat
didiagnosa dimana pada pemeriksaan jarngan otaknya didapat gambaran patologis
anatomis yang menjadi ciri khas Alzheimer, yakni plak yang berisi protein
beta-ayloid. Namun dalam baynak sistem
kesehatan otak bukan sebagai bagian dari standar pencitraan dan
penilaian untuk menngetahui penyakit Alzheimer. Meskipun banyak usaha,
identifikasi tes darah untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer tetap sukar
dipahami pengujian tersebut tidak dianjurkan.
Gejala yang harus diperhatikan terutama
munculnya gejala MCI berupa gangguan memori namun fungsi kognitif masih normal.
Aktivitas sehari-hari juga dalam stadium ini belum terganggu. Gejala ini perlu
ditanggapi dengan serius karena penyandang stadium ringan memunyai resiko untuk
mengidap penyakit demensia penyakit Alzheimer. Gejala yang muncul pada
penderita penyakit Alzheimer dimulai dari permasalahan belajar, gangguan
berbahasa dan gangguan intelektual. Tanda-tanda klinis ini bisa berupa
kemunduran intelektual secara pogresif dalam jangka waktu pendek seperti
kehilangan ingatan, disorientasi topografi, kesulitan untuk menemukan
kata-kata, anomia dan iritabilitas yang bisa diiringi oleh perubahn karakter,
halusinansi dan depresi. Kematian pada umumnya terjadi dalam batas waktu 6
sampai 7 tahun sesudah menderita penyakit tersebut. Delapan puluh persen (80%)
dari jumlah kematian pada penderita penyakit Alzheimer disebabkan oleh
pneumonia dan gangguan sirkulasi seperti dehidrasi.
Akibat
Demensia Alzheimer
Penderita yang berada di tahap
sederhana dan parah akan menunjukkan tingkah laku yang aneh. Diantaranya
seperti menjerit, terpekik dan mengikuti perawat kemana saja. Penderita yang
terkena penyakit ini dapat menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat
untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
Selain itu, orang yang sakit juga
mendengar suara atau bisikan halus dan
melihat bayangan menakutkan.Semua ini secara tidak langsung memberi tekanan
mental kepada perawat sebab mereka terpaksa menjaga orang yang sakit setiap
hari. Orang yang sakit juga kadang kala akan berjalan kesana sini tanpa sebab
dan polatidur mereka juga berubah. Penderita yang sakit akan lebih banyak tidur
pada waktu siang dan terbangun pada
waktu malam.
Yang menyedihkan adalah orang yang
sakit itu sendiri tidak memahami apa yang terjadi pada diri mereka dan
memerlukan bantuan orang lain. Penyakit Alzhimer ini, tidak dapat
disembuhkan.Tetapi gejalanya masih dapat dikendalikan dengan obat-obatan.
Secara umum orang sakit yang didiagnosis mengidap penyakit ini meninggal dunia
akibat radang paru-paru atau pneumonia. Ini disebkan pada waku itu orang yang
sakit tidak dapat melakukan sembarang aktivitas lain. Obbat-obatan yang diberi
pada tingkat awal, dapat membantu ingatan penderita seperti kognitifaktivitas
harian an tingkah laku. Berdasarkan kondisi dan gejala-gejala yang dialami
penyakit ini dibagi menjadi empat tahap.
1.Tahap-Tahap Penurunan Kemampuan
Akibat Penyakit Alzheimer
A.Tahap Pra Dimensia
Gejala perttama sulit diketahui,
sering keliru dianggap akibat penuaan normal atau stres. Detailed
neuropsikologi pengjian dapat mengungkapkan kesulitan kognitif ringan hingga
delapan tahun sebelum seseorng memenuhi kriteria klinis untuk diagnosis
penyakit Alzeimwer.Gejala awal ini dapat mempengaruhi paling kompleks aktivitas
kehidupan sehari-hari. Yang paling mencolok adalah hilangnya ikatan atau
berkurangnya memori (deficit), yang munmcul sebagai kesulitan dalam lajar-lajar
baru-baru ini mengingatkan fakta dan ketidakmampuan untuk mendapatkan informasi
yang baru. Terjadi masalah-masalah yang masih samar terhadap fungsi perhatian,
perencanaan, fleksibillitas , dan pemikiran abstrak, atau gangguan dalam memori
semantik (memori makna, dan konswep hubungan), juga dapat berupa gejala
kesulitan perhitungan. Tahap penyakit juga telah disebut kerusakan kognitif
ringan.
B.Tahap Dimensi Awal
Kondisi penderuta padatahap ini
terjadi peningkatan gangguan belajar dan memori (ingatan) yang akhirnya
memperjelas untuk di diagnosis sebagai penyakit Alzheimer. Pada sebagian kecil
pada penderita mengalami kesulitan dengan bahasa, fungsi persepsi dan
pelaksanaan gerakan, masalah-masalah tersebut lebih menonjol daripada masalah
memori yang sama. Ingatan dari peristiwa-peristiwa hidup, kemampuan belajar
(semantik memori) dan memori tubuh tentang
cara untuk melakukan suatu pekerjaan mengalami penurunan ketingkat
kemampuan yang lebih rendah dibandingkan kemampuan mengingat fakta-fakta baru
atau peristiwa-peristiwa baru dalam hidupnya.
Masalah bahasa terutama dapat dicirikan
oleh menyusutnya kosa kata dan berkurangnya kefasihan bicara yang menyebabkan
menjadi miskin lisan dan tulisan. Pada tahap ini, orang dengan penyakit
Alzheimer biasanya mampu berkomunikasi secara memadai ide-ide dasar. Sementara
melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan geakan tubuh halus (fungsi
motorik halus) seperti menulis, menggambar atau berpakaian, gerakan tertentu
kesulitan koordinasi dan perencanaan dapat hadir, mmembuat penderita tampak
canggung. Ketika penyakit berkembang,orang-orang dengan AD dapat sering dengan
terus untuk melakukan banyak tugas secara independen, tapi mungkin perlu
bantuan atau pengawasan dengan kegiatan yang membutuhkan fungsi kognitif
(pemikiran) tinggi.
Pada tahap ini penderita juga
mempunyai kecenderungan untuk kehilangan energi atau bersikap spontan, yang
akan mengubah perilaku mereka dan perilaku ini tidak dapat dimengertioleh
kelurga. Tahap ini disebut juga Mild Cognitive Impairment (MCI), dimana tidak
ada kriteria yang dapat menegakkan diagnosis bahwapenderita mengidap Alzheimer
lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor telepon ialah
diantaranya sebagian gejala ringan. Apabila orang yang sakit lupa mencampurkan
gula dalam minuman, garam dalam masakan atau cara-cara mengaduk air
dikategerikan sebagai tingkat sederhana.
C.Tahap
Dimensi Moderate (sedang)
Pada
tahap ini perjalanan penyakit menuju ke tahap tengah, penderita mungkinmasih
bisa melakukan rutinitas sehari-hari sendiri, tapi memerlukan bantuan untuk
aktivitasyang lebih kompleks yang berhubungan dengan kemampuan kognitif dan
memori seperti menghitung dan lain-lain. Apabila orang yang sakit sudah tidak
mampu melakukan perkara asas sendiri seperti mengurus diri sendiri, keliru
dengan keadaan sekitar rumah, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga
terdekat, ia menandakan orang yang sakit berada di tingkat yang serius.
Kemerosotan progresif akhirnya
menghalangi kebebasan dalam beraktivitas. Kesulitan dengan mengemukakan dalm
behasa karena ketidakmampuan dalam mengingat kosa kata, sehingga menggunakan
kata-kata yang salah atau pengucapan yang tidak tepat. Keterampilan membaca dan
menulis juga semakin hilang. Kompleksitas urutan gerak menjadi kurang
terkoordinasi dengan berjalannya waktu. Mengurangi kemampuan untuk melakukan
paling noormal aktivitas kehidupan sehari-hari.
Selama fase ini, masalah memori
memburuk, dan mungkin orang gagal untuk mengenali kerabat dekat. Memori jangka
panjang, yang sebelumnya utuh menjadi
terganggu, dan perubahan perilaku menjadi kejadian yang biasa. Perubahan
kondisi mental atau psikis, penurunan kemampuan bicara, iritabilitas dan dan
kondisi yang labil mudah terpengaruh, yang menyebabkan menangis, ledakan
keinginan mental tidak direncanakan, atau penolakan terhadap pengasuhan.
Kira-kira 30% dari penderita ajuga kehilangan kemampuan identifikasi serta
terjadi gejala ilusi dan delusi. Pengeluaran uurin atau buang air kecil yang
tidak normal. Gejala ini membuat kesulitan
bahkan stres bagi kerabat dan pengasuh.
D.Tahap Dimensi Parah
Ketika kondisi ini terjadi
penderita sudah benar-benar tergantung kepada pengasuh. Bahasa sederhana
direduksi menjadi frasa atau bahkan satu
kata pun akhirnya menimbulkan kehilangan keseluruhan kemampuan bicara. Meskipun
kehilangn kemampuan bahasa verbal, penderita seringkali dapat mengerti.
Walaupun agresivitas masih dapat terjadi, namunlebih sering dalam keadaan
apatis dan kelelahan merupakan kondisi yang umum terjadi. Pada akhirnya
penderita tidak dapat melakukan tugas-tugas yang paling sederhana tanpa
bantuan. Kemampuan bergerak dan otot tubuh memburuk ke titik dimana mereka
terbaring di tempat tidur, dan mereka kehilangan kemampuan untuk makan sendiri.
Alzheimer adalah penyakit terminal dengan penyebab kematian biasanya mejadi
faktor eksternal seperti infeksi atau radang paru-paru, bukan oleh penyakit itu
sendiri.
Pada tahap ini penyakit menuju
tahap akhir, penderita tidak mampu melakukan rutinitas yang paling sederhana
sekalipun. Kemampuan pebderita sangat
terbatas, ia memerlukan pengawasan yang terus menerus. Kontrol terhadap buang
air kecil maupun buang air besar menjadi hilang. Ia dapat buang kotoran
disembarang tempat. Ia juga tidak dapat makan dan berjalan tanpa pengarahan.
Kemudian dpat terjadi kehilangan kemampuan untuk menelan makanan dan miniman,
tentu saja ini menyebabkan kematian.
2.Kerusakan Kogntif
Kriteria untuk dimensia yang kuno
berarti bahwa penderita pasti punya cukup penurunan kemampuan untuk berfikir
sebelum didiagnosis dimensia. Perkembangan
penyakit Alzheimer begitu berbahaya dan lambat, bahwa penderita
mengalami penurunan memori jelas lebih buruk dari pada yang awal, namun belum
memenuhi kriteria untuk dimensia.Seseorang terpengaruh dengan kondisi awal
dimensia Alzheimer memiliki kerusakan kognitif yang ditunjukkan pada tes
neuropsikologi Formal tapi masih dapat
berfungsi dengan baik. Pengujian neuropsikologi formal biasanya berarti bahwa
penderita diberikan tes standar memori dan berfikir. Beberapa dari tes ini
adalah seperti tes IQ. Ketika tes ini dikembangkan mereka diberikan kepada ratusan atau ribuan
orang sehingga statistik yang tersedia untuk mengatakan beberapa nilai
seseorang dibandingkan dengan sampel orang-orang sehat pada usia yang sama.
Jika seseorang skor diatas 50%, itu berarti bahwa dia lebih baik
sekurang-kurangnya 50% dari orang normal lain yang mengambil ujian.
Mungkin yang
paling umum dikaitkan dengan gangguan
dalam memori (ingatan), tetapi tidak dalam kemampuian untuk merencanakan dan
akal. Orang dengan tipe ini disebut amnesia (berarti tidak ada memori) memiliki fresiko tinggi penyakit Alzheimer
berkembang selama beberapa tahun. Orang yang memiliki ingatan masih baik tetapi
mengalami gangguan penalaran atau kesulitan mengambil keputusan (non-amnestic
MCI) memiliki resiko lebih rendah berpenyakit Alzheimer.
Perawatan dapat
mengurangi penyakit Alzheimer yang menyerang atau memperlambat laju
perkembangannya. Saat ini tidak ada lagi obat-obatan yang dikembangkan akan
mempercepat laju perkembangan MCI penyakit Alzheimer atau benar-benar mencegah
perkembangan penyakit Alzheimer.
Perawatan
dan Pengobatan
Sebagian orang dengan penyakit
Alzheimer dapat tetap di ruumah selama beberapa bantuan yang diberikan oleh
orang lain dapat memenuhi keperluannya. Selain itu, sepanjang perjalanan
peenyakit, dapat dilakukan usaha mempertahankan kemampuan seseorang dengan
hubungan interpersonal yang hangat, dan
berpartisipasi dalam berbagai kegiatan
yang bermakna dengan keluarga dan teman-taman.
Seseorang dengan penyakit Alzheimer
mungkin tidak lagi mampu mengerjakan hitungan matematika tetapi mungkin dapat
membaca majalh dengan mudah senang hati sehingga dapat membantu pengendalian
emosionalnya. Begitu juga dengan aktivitas sosial dan keagamaan masih dapat
dilakukan dengan baik. Bersantai bersama dengan orang lain mungkin masih
menjadi acara yang menyegarkan pikiran. Ini merupakan jonsep perwatan yang
perlu kamu ketahui untuk mengurangi atau menghambat laju perkembangan penyakit.
Jika kondisi mental di tingkat stres terjaga dengan baik, maka proses-proses
metabolisme tubuh seimbang dan tidak terjadi produksi hormon serta zat lain
yang dapat mempercepat perkembangan penyakit.
Permainan dan pekerjaan yang rumit
perlu disingkirkan jika memang sudah tidak sanggup melakukannya. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi beban stres. Namun olahraga bermain tenis atau
sejenisnya masih bisa dinikmati. Jadi, meskipun banyak kesulitan dalam
kehidupan dalam kehidupan penderita penyakit Alzheimer namun dengan keluaarga
mereka masih banyak kesempatan tetap untuk interaksi positif. Tantangan,
frustasi, kedekatan, kemarahan, kehangatan, kesedihan, dan kepuasan mungkin
semua akan dialami oleh orang-orang yang membantu orang penderita penyakit ini.
Kondisi penderita penyakit
Alzheimer tidak sama dan kemampuannya untuk mengatasi juga berbeda-beda.
Teergantung pada faktor-faktor sepeti pola kepribadian dan sifat dan tingkat
keparahan stres dilingkungan terdekat. Depresi, kegelisahan berat, paranoia,
atau delusi dapat menyertai atau hasil dari penyakit, tetapi kondisi ini sering
dapat ditingkatkan dengan perawatan yang tepat. Meskipun tadak ada obat untuk
penyakit Alzheimer, perawatan yang tersedia untuk mengurangi gejala yang
menyebabkan kesulitan.
Pengelolaan penyakit Alzheimer
terdiri dari berbasis obat-obatan dan perawatan berbasis non-obat. Dua golongan
yang berbeda dari obat-obatan yang disetujui oleh FDA untuk mengobati penyakit
Alzheimer: cholinesterase inhibitor dan antagonis glutamat parsial. Baik
golongan obat yang telah terbukti untuk memperlambat laju perkembangan penyakit
Alzheimer.
Pada penderita dengan penyakit Alzheimer
ada relatif kurangnya zat kimia otak yang disebut asetilkolin.
(Neurotransmiitter adalah pembawa pesan kimia yang diproduksi oleh saraf-saraf
yang digunakan untuk berkomunikasi dengan satu sama lain dalam rangka untuk
melaksanakan fungsinya). Penelitian telah menunjukkan bahwa asetilkolin adalah
penting dalamkemampuan untuk membentuk
memori baru. Akibatnya jika asetilkolin lebih tersedia di otak, mungkin menjadi
lebih mudah untuk membentuk ingatan baru. Berbasis non-obat memaksimalkan
perawatan penderita termasuk kesempatan untuk interaksi sosial dan
berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seperti jaln kaki dan senam masih bisa dinikmati.
1.
Obat
Empat macam obat ChEls telah
disetujui oleh FDA, tetapi hanya donepezil hydrochloride (aricept), rivastigmine
(Exelon), dan galantamine (Razadine-yang sebelumnya disebut Reminyl) digunakan
leh kebanyakan dokter karena obat keempat,tacrine (Cognex) emiliki lebih banyak
efek samping yang tidak diinginkan dibandingkan tiga lainnya. Kebanyakan ahli
dalam penyakit Alzheimer tidak percaya ada perbedaan penting dalam efekktivitas
dalam ketiga obat-obatan. Beberapa studi menunjukkan bahwa perkembangan gejala
penderita pada obat-obatan ini tampaknya dataran tinggi selama enam sampai 12
bulan, tapi perkembangan pasti mulai lagi kemudian.
Rivastigmine dan Galantamine hanya
disetujui oleh FDA untuk kondisi ringan hingga sedang penyakit Alzheimer,
sedangkan donepezil ini telah disejui untuk kondisi ringan, sedanmg dan berat
penyakit Alzheimer. Tidak diketahui apakah Rivastigmine dan galantimine juga
efektif untuk penyakit Alzheimer berat.
Efeksamping dari Chels melibatkan
sistem pencernaaan dan mencakup mual, muntah, kram, dan diare. Biasanya efek
samping ini dapat dikonntrol dengan perubahan ukuran aatu dsari dosis atau pemberian
obat dengan jumlah kecil makanan. Antara
75% dan 90% dari penderita akan mentoleransi dosis teraupetik Chels.
Satu teori menunjukkan bahwa
terlalu banyak glutamat mungkin buruk untuk otak dan menyebabkan kerusakan dan
sel-sel saraf memantine (namenda) bekerja mengurangi efek glutamat untuk
mengaktifkan sel-sel saraf. Belum terbukti bahwa memantine memperlambat laju
perkembangan penyakit alzheimer. Penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa
penderita di memantine bisa memperhatikan diri mereka sendiri lebih baik
dibandingkan penderita pada piligula (plasebo). Memantine ini telah disetujui
untuk pengobatan ringan dan berat demensia, dan studi tidak menunjukkan hal itu
membantu dalam demensia ringan.
2.
Pengobatan
Psikiatri
Gejala
penyakit alzheimer termasuk abitasi, depresi, halusinasi, cemas dan tidur
gangguan. Standar psikiatri obat banyak digunakan untuk mengobati gejala-gejala ini meskipun
tidak ada obat inii yang telah secara khusus disetujui oleh FDA untuk mengobati
gejala-gejala pada penderita dengan penyakit alzheimer. Jika perilaku ini
jarang atau ringan, mereka sering tidak memerlukan perawatan dengan
obat-obatan.non langkah farmatologi dapat sangat berguna.
Namun
demikian,seringkali gejala-gejala ini sangat parah sehingga menjadi mustahil
bagi pengasuh untuk merawat penderita, dan pengobatan dengan obat-obatan untuk
mengontrol gejala ini menjadi perlu. Agitasi adalah umum,terutama di tengah dan
kemudian tahap penyakit alzheimer.banyak zat berbeda tekah di coba untuk
mengobati agitasi:
·
Antipsikotik
·
Antikonvulsan(menstabilkan suasana hati)
·
Trazodone(desyrel)
·
Anxiolytics,dan
·
Beta-blockers
Terapi
Penanggulangan
penyakit Alzheimer membutuhkan paket penanganan secara komprehensif mencakup
terapi farmakologik dan non-farmakologik termasuk terapi sosiopsikologik yang
melibatkan anggota keluarga. Tujuan utama dari paket ini adalah untuk
memperbaiki secara keseluruhan fungsi metabolisme neuron dapat dilakukan dengan
terapi farmaka berupa obat-obat neutropik. Sementara untuk menghindarkan
kerusakan neuron dapat dilakukan dengan menghindarkan zat-zat yang sifatnya
toksik.
Faktor-faktor lain yang harus
diperhatikan dalam pemberian terapi farmaka pada kelompok lanjut usia adalah
yang menyangkut fungsi organ seperti ginjal dimana klearensya yang sudah menurun.
Demikian juga halnya dengan menurunnya metabolisme hati. Oleh sebab itu,
pemberian obat-obatan yang dapat menggangu fungsi kognitif seperti
antihistaminika, antidepresi, benzodiazepin, penggunaan opioid dalam pengobatan
nyeri harus ekstra hati-hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar